Guru Penyebar Hoax

40251450339805628

KITA HARUS MEMPERINGATKAN GURU AGAR TIDAK SEMBARANGAN MENSHARE BERITA HOAX.

Mungkin anda sekarang menemukan status medsos yang banyak berisi umpatan , cacian, saling mengejek, nyinyir bahkan berdebat dengan sengit. Dan itu terus muncul diberanda kita.

Betapa mengerikannya, bukannya menyurutkan tensi. Saya sendiri terkadang ikut terpancing untuk meramaikan koalisi pendebat tak bermakna itu.

Artikel ini ditulis untuk itu,agar kita tidak terjebak dalam panasnya lahar tak bermakna itu.

Seperti yang saya alami rata-rata jika terjadi polemik, hanya 1 atau 2 orang saja yang berusaha menengahi, sisanya saling menjual dan membeli kegaduhan.

Jika perdebatan itu dilakoni oleh mereka yang cukup intelek bisa jadi penonton akan tercerahkan. Karena intelektual biasanya rajin membaca. Orang yang rajin membaca , kata-katanya bermutu.

Studi empirik menunjukkan orang yg rajin baca buku bermutu cenderung akan lebih open mind, terbuka dengan gagasan-gagasan baru dan tidak mudah terprovokasi.

Nah ..disitulah masalahnya…

Kadang-kadang isi akun medsos penuh dengan status abal – abal dan serba katrok.

Maka pantas keluarlah ucapan maupun perkataan Panas itu plus perdebatan goblok semaput maka semakin melelehlah permasalah tersebut, bagai besi dirusak pandai besi.

Peringkat minat baca Indonesia ada di No 60 dari 61 negara.

Wajar kalo status FB acap isinya abal – aba. Karena malas baca buku – buku bermutu. Wajar …

Menyengat dan menyesakkan hati .

Miskin dengan pembelajaran.

Cilakanya…Guru – guru pun kadang terlibat juga.
Ini berbanding terbalik dengan konsep guru sebagai yang digugu dan ditiru.

Saya membayangkan .

Semakin mengerikan share hoax seorang guru, maka semakin gila siswanya.

Ini merugikan, sangat merugikan. Lantas contoh apalagi yang mau ditiru. (wong guru ku gitu juga, katanya siswa)

Perkataan Mark Zuberk bahwa Facebook diciptakan untuk saling menghubungkan secara sosial antara sesama manusia lantas sekarang nyungsep tujuannya.

Bukan rasa perdamaian yang bertebaran malah rasa kebencian.
Bayangkan orang membenci orang lain ketika pilihannya beda.
Kalau gitu buat apa koar – koar hingga mulut berdarah-darah teriak perdamaian kalau hati tak suka.

Meski begitu, ini mungkin saja sementara tidak untuk selamanya.
Ini sich menurut saya hanya kegalauan semata, kegagahan semata yang sudah pasti tidak akan bertahan lama.

Omong kosong jika bertahan lama, toh sesuatu yang lama-kelamaan memuakan akan dibuang juga , toh begitu bukan?.

Status abal – abal Kalau saja dilakukan netizen yang notabene seorang cabe-cabean sejati atau orang berakal rendah, atau katakan orang-orang tulalit mungkin tidak jadi soal.

Orang-orang berlabel itu memang tingkahnya menyulitkan dirinya sendiri.

Namun kembali persoalan menjadi lain, jika ternyata pelakunya adalah seorang guru.

Dahyatlah nyinyiran orang terhadap pelaku ini karena profesinya guru bukan karena pelakunya (oknum). Terlebih lagi masih ada segolongan idiot yang suka sekali menyamaratakan, totum pro parte, sebagaian berarti keseluruhan. Jika pelakunya dari kelompok A maka seluruh A adalah brengsek.

Wah…nyungsep betul ya.. Awak demi kawan, kawan demikian….

Segeromobolan manusia kurang akal di dunia maya, yang suka merusak keharmonian mendapat kembali senjatanya.

Logikanya…guru seorang terpelajar dengan pendekatan belajar yang tinggi. Pantang terpancing hoax.

Seorang terpelajar apalagi sebagai guru harus kuat dalam menyaring pikiran agar tidak gampang diombang ambing oleh opini yang belum tentu kebenarannya.

Sebagai pendidik yang ditugaskan mendidik karakter, tentu pantang untuk terlibat dalam polemic yang tidak berkesudahan apalagi petualangan tanpa batas dari share-share info-info kampungan itu.

Dalam kondisi saat ini yang (katakan saja sedikit adem)

Social media memang sudah menjadi kebutuhan setiap individu, buktinya hampir semua orang Indonesia memiliki smartphone terutama masyarakat yang berpendapatan menengah keatas.

Terkadang smartphone tersebut dimiliki masyarakat berpendapat rendah, (saya kadang-kadang melihatnya).

Jika digunakan secara mantap dan baik tentu saja hasilnya keren.
La..kalau tidak? Nyungsepp..

Sering kita lihat seorang anak muda , ngomel-ngomel ga jelas, mengupdate status yang meresahkan teman-temannya.

Topiknya jelas, masalah luar yang dia sendiri ga tahu kebenarannya.
Saya sering tanya juga, rata-rata jawabnya solider (share berita hoax temen?Solider, ndass mu le)

Ini muram sekali, maujadi apa anak muda tersebut?.

Benar apa yang dikatakan oleh lubis, “Dalam pembangunan manusia, terutama pemuda-pemudanya adalah mutlak, bila hendak membangun negara ada 3 soal yang penting: pembangunan pendidikan, pembangunan kesehatan, dan pembangunan social pemuda-pemuda bangsa.”.

Lah..bagaimana kalo kita balik…Benar apa yang dikatakan oleh lubis,
“Dalam penghancuran manusia, terutama pemuda-pemudanya adalah mutlak, bila hendak menghancurkan negara ada 3 soal yang penting: hancurkan pembangunan pendidikan (bisa sekolah, guru, orang tuanya mode on tulalit), pembangunan kesehatan (narkoba), dan pembangunan social pemuda-pemuda bangsa (pemakan hoax, nyinyir dan suka sekali membaca berita-berita negative).”.

Maka mudahlah jalan bangsa ini hancur berkeping (menunggu waktunya saja hingga keresahan itu muncul).

Banal oleh masalah yang terus menerus merusak bagian akal sehat manusia dari yang super duper idiot menjadi superhero High Quality
Pendidikan adalah tangkal efek samping dengan adanya iblis globalisasi (ndak semua sumbangan globalisasi atau kesejagatan itu baik lho),

Lantas apa solusiny?
Dunia maya itu banyak nya juga dengan berita-berita terbaik kawan.

Jangan terkungkung dalam lembaran maya sehelai dua helai.
Jika didalami ternyata ada jutaan halaman terbaik berita yang dapat membuat kita menjadi inspirator.

Buah ide-ide bermunculan,
semangat bekerja keras meningkat,
bahkan dengan mempergunakan strategi pembelajaran yang tepat,
berita-berita tersebut dapat menjadi sumber pendapatan yang gurih.
Atau sebaiknya share berita negative beserta solusinya.

Bukan mengumbar masalah doing.

Banyak problem bangsa ini yang benar- benar real. Bukan hoax.

Tugas guru adalah Sebarkan kebenaran. Dan pastikan BENAR.

Jika ragu-ragu segera kembali kata kopassus.

Guru harus melawan akun-akun busuk menyebar hoax.

Waspadalah guru, bahwa ruangan sekolah sudah bukan di kelas lagi.
Diera ini dunia maya diterima menjadi laboratorium yang cukup dashyat oleh anak didik.

Kelas-kelas konvensional juga ketinggalan.

Anak didik sudah semakin menggila cara belajarnya.
Sesuatu yang dirasakannya kuno akan segera ditinggalkan begitu saja
Nah…memang kelas maya itu bagus dan sangat jos karena strategi pembelajaran berkembang sesuai zaman tersebut berirama.

Guru bisa membagi yang baik. Guru bisa memulai dengan membagi soal kompetensi, soft skill, edukasi, beasiswa, strategi yang sukses dalam pembelajaran kita, kisah-kisah nyata sukses, siswa-siswa yang dalam pembelajarannya patut ditiru atau kegagalan yang dapat kita ambil hikmahnya.

Menurut studi, hoax dan berita kampungan itu sering menghabiskan motivasi diri untuk berkembang. Mereka membunuh harapan hidup kita untuk meninggkatkan kapasistas diri.

Guru-guru yang sudah terkontaminasi perlu segera di- instal otaknya.
Ini nyata dan dan sangat nyata.

Jika kita menshare yang baik- baik makan yang baik-baik itulah yang kita tuai.

Jauhi hoax karena Danger..!

PS: Jika Anda suka atau merasa artikel ini bermanfaat bagi dunia pendidikan, tolong SHARE melalui tombol Social Media (Facebook, Twitter, Google+ ) yang kami sediakan. BERBAGI TIDAK AKAN MENGURANGI REZEKI.

Anda juga bisa memberikan komentar atau pertanyaan tentang artikel diatas. Dapatkan buku maut pengubah nasib disini

Leave a Reply

DOWNLOAD 5 BUKU PEMBELAJARAN BERMUTU TINGGI

GRATIS

terima kasih , link download sudah kami kirim ke email anda

Something went wrong.